Browsed by
Category: Budaya Banjar

Pelajaran dari Banjir Kalsel

Pelajaran dari Banjir Kalsel

Setelah membaca berbagai respons masyarakat terhadap banjir yang terjadi di Kalsel di linimasa media sosial, saya jadi sadar bahwa kenyataan banjir itu tidak tunggal. Ada yang melihat sebagai realitas politik sehingga presiden dan gubernur serta kepala daerah dianggap pihak yang paling berdosa. Ada yang melihatnya sebagai cobaan Tuhan yang Maha Penyiksa sehingga cukup berharap dengan doa. Gubernur Kalsel Sahbirin Noor melihat banjir ini antara lain akibat cuaca ekstrem yang jadi tanggung jawab bersama, bukan hanya dalam penanggulangannya tetapi juga penyebabnya. Saya sendiri mendapatkan banyak pelajaran dari musibah ini meskipun saya tidak termasuk yang terdampak.

Ziarah Cinta

Ziarah Cinta

Haul Guru Sekumpul merupakan peristiwa sosial-keagamaan terbesar di Kalimantan yang melibatkan jutaan orang dari jauh dan dekat. Demikian ujar  Radius Ardanias Hadariah suatu ketika (FB, 8/3). Pada haul yang ke-10 tahun tahun 2015, Guru Besar dan Rektor UIN Antasari Mujiburrahman mencatat bahwa haul dihadiri oleh sekitar 350 ribu orang, lelaki dan perempuan, anak-anak dan orangtua, dari rakyat jelata, ulama hingga pejabat negara. Untuk itu, disiapkan kurang lebih 4.500 petugas keamanan, sebanyak 64 posko parkir dan pantau jalur, serta 34 dapur…

Read More Read More

Memburu Sang Maestro Lamut  M. Jamhar Akbar

Memburu Sang Maestro Lamut  M. Jamhar Akbar

Sejak akhir 2010 kami (Nurdin Yahya, Hajriansyah, dan saya) memburu jejak pergerakan pergelaran palamutan Gusti Jamhar Akbar di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarmasin dan sekitarnya. Di awal tahun 2011,  Gusti Jamhar tampil di malam pernikahan anaknya di Desa Simpang Warga Dalam, Kecamatan Aluh-aluh, Kabupaten Banjar. Malam itu maestro lamut hanya tampil satu jam karena masih banyak agenda lainnya, yaitu batamat al-qur’an dan maulid Habsyi. Tetapi keesokan malamnya, secara mendadak pembakal Nawawi memintanya balamut (memainkan lamut) semalam suntuk dan kami kehilangan…

Read More Read More

Lamut Rahmatan Lil ‘Alamin

Lamut Rahmatan Lil ‘Alamin

Tradisi lisan balamut yang kini sangat langka merupakan tradisi sebagian orang Banjar yang sangat rumit. Ada yang menganggapnya bertentangan dengan ajaran Islam (dan tentu anggapan ini berasal dari luar komunitas balamut) tapi orang-orang dalam komunitas balamut tak perduli dengan anggapan itu. Mengapa dianggap demikian? Karena Lamut adalah dewa yang menjelma menjadi manusia dan ia begitu fasih mengajarkan ajaran-ajaran tasawuf. Mereka menduga komunitas ini meminta pertolongan kepada para dewa dari agama lain. Padahal, penuturan cerita ini selalu diawali dengan bacaan bismillah dan…

Read More Read More

Distorsi Pendidikan Karakter dalam Cerita untuk Anak

Distorsi Pendidikan Karakter dalam Cerita untuk Anak

Sejak pemerintah mencanangkan gerakan pendidikan karakter pada 2010, yang juga berkontribusi atas lahirnya kurikulum 2013, banyak buku sastra yang maramaikan suasana itu dengan memberi label pendidikan karakter pada sampulnya sabagai pemikat pembaca atau pembeli. Salah satu contoh dari khasanah kesusastraan di Kalimantan Selatan yakni 20 kumpulan cerita rakyat Banjar dalam buku Puteri Junjung Buih, yang diceritakan kembali oleh M. Hasbi Salim, dkk (2012). Melihat panjangnya cerita dan bahasa yang digunakan, dapat kita duga bahwa buku ini ditujukan untuk para pembaca…

Read More Read More

Lomba Folklor Kalsel 2013

Lomba Folklor Kalsel 2013

Lomba menulis legenda, dongeng, atau cerita rakyat yang ada di Kalimantan Selatan (Kalsel), yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Provinsi Kalsel, sudah dibuka sejak 20 Juli 2013 dan akan ditutup pada 14 Oktober 2013. Juara pertama akan diganjar dengan hadiah uang tunai Rp 9 juta. Lomba yang cukup menggiurkan dari segi hadiah. Namun sayang, tampaknya publikasi tentang lomba ini sangat pelit. Kabar itu saya peroleh melalui kawan-kawan dijejaring sosial. Hadiah sefantastis itu mungkin dianggap setimpal dengan kesulitan yang akan dihadapi peserta…

Read More Read More

Nanang-Galuh dan Pelestarian Budaya

Nanang-Galuh dan Pelestarian Budaya

Dua tulisan di Banjarmasin Post, 28 September 2005, menggelitik pikiran saya untuk ikut unjuk gagasan. Tulisan pertama ditulis A. J. Purwadi, seorang praktisi pariwisata, dan tulisan kedua ditulis Rasyid Ridho, seorang jurnalis radio (Jika Anda punya klipingnya, sudilah berbagi dengan saya). Tulisan pertama menyayangkan beberapa hal yang dirasa “gagal” dalam upaya pelestarian budaya melalui kontes Nanang-Galuh selama ini. Rasa “gagal” itu, pertama-tama, dapat dirasakan oleh penulisnya melalui sikap generasi muda yang kurang bangga dengan kegiatan ini. Dalam tulisannya kita bisa…

Read More Read More

Lamut di Panggung Damarwulan

Lamut di Panggung Damarwulan

  Setelah menyaksikan langsung pertunjukan kelompok kesenian Damarwulan dari Sungai Tabuk pimpinan Pak Gusti Jailani Arief di Aula Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banjar (12/8/2015), saya jadi mengerti bahwa Damarwulan di sini adalah nama bentuk seni pertunjukan yang bukan hanya dapat memanggungkan cerita Damarwulan yang umum dikenal di panggung ludruk atau ketoprak di Jawa, tetapi juga bisa memanggungkan cerita lain. Kesimpulan sementara ini mungkin salah karena hanya berdasar pada beberapa pengetahuan tidak langsung dan parsial.

Kearifan Orang Banjar Menjaga Lisan

Kearifan Orang Banjar Menjaga Lisan

  Jika keberadaan orang Banjar dianggap bersamaan dengan lahirnya kota Banjarmasin yang kini telah berusia 488 tahun, maka dalam rentang panjang usianya, mereka telah menghasilkan banyak karya budaya, mulai yang abstrak sampai yang konkret. Salah satu dari sekian banyak karya budaya itu adalah peribahasa. Sebagian Peribahasa Banjar masih bertahan dan relevan dengan konteks zaman sekarang tetapi ada pula yang telah benar-benar pudar. Peribahasa itu memberikan panduan sikap dalam menghadapi kehidupan. Peribahasa menjadi bukti bahwa orang Banjar memiliki panduan etika yang…

Read More Read More