Kearifan Orang Banjar Menjaga Lisan

Kearifan Orang Banjar Menjaga Lisan

 

syamsiarJika keberadaan orang Banjar dianggap bersamaan dengan lahirnya kota Banjarmasin yang kini telah berusia 488 tahun, maka dalam rentang panjang usianya, mereka telah menghasilkan banyak karya budaya, mulai yang abstrak sampai yang konkret. Salah satu dari sekian banyak karya budaya itu adalah peribahasa. Sebagian Peribahasa Banjar masih bertahan dan relevan dengan konteks zaman sekarang tetapi ada pula yang telah benar-benar pudar. Peribahasa itu memberikan panduan sikap dalam menghadapi kehidupan. Peribahasa menjadi bukti bahwa orang Banjar memiliki panduan etika yang otentik dan berakar dari pengalaman hidup mereka.

Peribahasa itu beraneka ragam bentuknya dan telah banyak dicatat oleh beberapa pengkaji folklor. Salah satu sumber rujukan yang perlu dibaca adalah buku karya Ahmad Makkie dan Syamsiar Seman, Peribahasa dan Ungkapan Tradisional Bahasa Banjar (2006). Buku ini mencatat 440 pribahasa Banjar yang menyikapi pelbagai masalah kehidupan.

Ada 8 pribahasa yang merespons perilaku komunikasi. Pertama, banyak muntung bagawi kada manuntung (Makkie dan Seman, 2006: 24). Arti harfiahnya: banyak mulut (bicara), kerja tak selesai. Peribahasa berpola sebab akibat ini dapat memiliki banyak arti. Arti mulut kini bisa dikembangkan menjadi status dalam jejaring sosial. Meskipun demikian, tentu pribahasa ini harus disikapi dengan kritis karena pengoposisian antara mulut dan kerja yang bersifat negatif bisa tidak diterima oleh pengalaman kerja yang sangat tergantung pada peranan utama mulut. Misalnya, pekerjaan penceramah, presenter televisi, penyiar radio, motivator, dan narasumber. Bagi mereka, bicara adalah untuk menyelesaikan pekerjaan.

Jika memang pekerjaan orang sangat tergantung pada peranan mulut, pribahasa Banjar memberikan panduan yang kedua: banganga dahulu, hanyar baucap (Makkie Dan Seman, 2006: 24). Arti harfiahnya: menganga dulu baru bicara. Memang sulit bicara tanpa menganga dalam masyarakat yang tergantung pada lisan. Namun bagi yang beraksara, bicara secara harfiah dapat dilakukan dengan menulis (tanpa perlu menganga). Namun, pribahasa ini secara tak langsung menyatakan betapa pentingnya berhati-hati dalam berbicara (baik secara lisan maupun tulisan) dan tidak asal bicara agar pembicaraan terarah dan bermutu.

Dengan kata lain, orang Banjar itu memiliki orientasi yang jelas pada kualitas lisan dan tulisan. Orang yang asal bicara atau asal tulis akan dicemooh dengan pribahasa ketiga ini: pandir kaya buak (Makkie dan Seman, 2006: 119). Buak itu burung malam sebesar genggaman tangan orang dewasa. Warnanya abu-abu. Ia tak bisa terbang tinggi, hanya bisa berlari dan melompat rendah. Orang Banjar menyebutnya burung buak karena bunyinya buak, buak, buak. Pribahasa ini ditujukan kepada orang yang suka menonjolkan kehebatan diri dan keluarganya dalam segala kesempatan. Pribahasa ini dalam konteks saat ini bisa diperluas sasarannya pada orang-orang yang ingin jadi pemimpin di masyarakat mana pun yang menggunakan setiap kesempatan bukan untuk membicarakan topik kesempatan tertentu tetapi sibuk mempromosikan diri dan atau keluarganya.

Keempat, lancar pandir, bahira maucir (Makkie dan Seman, 2006: 101). Arti harfiahnya: lancar bicara, berak berceceran. Metafora tahi yang berceceran ini menunjukkan betapa orang Banjar tidak suka dengan orang yang suka bicara mengada-ada yang tujuannya hanya untuk menutupi kekurangan dirinya sendiri. Secara tidak langsung, orang yang menyatakan pribahasa ini di hadapan orang yang lancar pandir bahira maucir mengetahui bagaimana pembicaraan yang berkualitas. Salah satunya adalah kejujuran. Jika pembicara telah terindikasi tukang karamput atau suka berdusta, orang Banjar akan merespons dengan pribahasa ini meskipun pembicara yang penuh dusta itu dibiarkan menyelesaikan pembicaraannya.

Kelima, lain nang disurung lain nang dikalang (Makkie dan Seman, 2006: 97). Metafora kalang dan surung berasal dari tradisi membangun rumah. Bahan-bahan yang dikalang dan disurung bisa berupa balok atau papan. Supaya pas, apa yang dikalang dan disurung harus sesuai. Pribahasa ini dipakai untuk menggambarkan pembicaraan yang tidak nyambung dan penuh kesalahpahaman. Masyarakat pengguna pribahasa ini mengerti betapa pentingnya fokus dalam pembicaraan atau dalam menuliskan pembicaraan atau dalam menanggapinya. Fokus pada tujuan utama pembicaraan adalah parameter kualitas komunikasi dalam pandangan pribahasa ini.

Keenam, kaya Cina kakaraman (Makkie dan Seman, 2006: 81). Pribahasa bergaya simile ini menunjukkan bahwa interaksi antara orang Banjar dan orang Cina sudah lama terjadi, paling tidak sejak orang Cina masih berniaga dengan menggunakan perahu. Pengalaman orang Banjar mengamati Cina yang pernah karam melahirkan pribahasa ini yang mereka pakai untuk menggambarkan situasi di mana sekelompok orang bicara bersama, yang terdengar ributnya saja dan isi pembicaraan sukar dimengerti. Secara tak langsung pribahasa ini mengidealkan pertemuan komunikatif yang tertib dan tenang.

Ketujuh, galugur-galugur guntur, hujannya kada (Makkie dan Seman, 2006: 42). Arti harfiahnya: Guntur bergemuruh tetapi hujan tak ada. Pribahasa ini mengingatkan siapa saja agar tidak suka sesumbar. Iklan politik bilang: rakyat perlu bukti bukan janji. Ada tuntutan integritas dalam berkomunikasi. Apa yang kita katakan harus kita buktikan. Ini kritik untuk ungkapan politik di ruang publik yang penuh kebohongan.

Terakhir, bujur pandiam, sakali baucap pas luput (Makkie dan Seman, 2006: 30). Arti harfiahnya: memang pendiam tetapi sekali bicara langsung salah. Pribahasa ini antitesis bagi ungkapan: diam itu emas. Tidak selamanya orang yang diam itu pandai. Pribahasa ini mengharapkan orang untuk berani bicara tetapi dengan cara yang benar sesuai dengan nilai-nilai ideal pribahasa sebelumnya.

Dalam pribahasa Banjar, mulut adalah lambang kecerdasan. Kedelapan pribahasa ini mengidealkan kualitas komunikasi yang tertib, jujur, sistematis, tenang, fokus, dan bertanggungjawab. Mari kita cermati ruang komunikasi publik kita, apakah sudah memenuhi harapan ideal ini?

Banjarmasin Post, Sabtu, 30 Januari 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *