Ketika Pandemik Menjadi Sumber Panik

Picture from this article

It’s such a weird, strange, not to mention, scary, times that we’re going through at the moment. Beberapa bulan yang lalu, mungkin tidak ada dari kita yang akan terpikir bahwa kita akan melewati masa dimana untuk keluar rumah pun, kita berpikir ulang. And it’s happening globally. Nggak cuma di satu dua negara saja. Hampir semua negara saat ini menjalankan strategi dan kebijakan masing-masing untuk menekan penyebaran COVID19 ini.

And it’s scary.

Tiba-tiba saja kita dikelilingi berbagai berita, rumor dan so-called information tentang persebaran virus ini, berapa orang dan siapa saja yang terdiagnosis positif, hingga penderita yang akhirnya meninggal. Tiba-tiba kita terpapar berbagai istilah yang sebelumnya begitu jarang kita dengar dalam kehidupan sehari-hari: social distancing, work from home, lock down, self-quarantine.

Di tengah situasi seperti ini, terkadang kita jadi mengabaikan, atau mungkin terlupa, bahwa saat kita sedang melalui kondisi semacam ini, yang penting bukan hanya menjaga kondisi tubuh kita secara fisik. Kesehatan mental kita pun juga harus dijaga.

Ada satu baris dari berita yang pernah saya baca, “COVID19 is not just about a pandemic. It’s like a global invitation to be panic.”

Sulit memang, tetap berusaha untuk tenang dan bersikap rasional, when there are so many people around us are being panic and we’re surrounded with so many information, it’s overwhelming.Tapi toh, apakah ikut-ikutan panik akan membuat situasi menjadi lebih baik?

That’s why, in times like this, it’s always a good idea to slow down, to stop for a while, and take a deep breath.

Panik itu wajar. Apalagi pada saat ini, kita merasa tidak tahu dan tidak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi. It’s the uncertainty that triggers our anxiety. Kita nggak tau kapan ini semua akan berakhir, kita nggak tau siapa lagi yang selanjutnya akan terdiagnosis positif, dan kita nggak tau apakah kita sudah cukup melindungi diri kita sehingga kita tidak tertular.

Begitu kita sudah mulai merasa panik, it’s always a good idea to sit down, and take some deep breath. Dan mulai menguraikan kepanikan kita itu.

Oke, kita sadar bahwa kita panik. Kenapa kita panik? Apakah karena kita merasa tidak tahu apa-apa, atau sebaliknya, terlalu banyak informasi simpang siur yang kita dapatkan? Kalau kita sudah tahu bahwa kita panik karena soal informasi, coba tenangkan diri dengan memastikan bahwa kita mencari informasi yang dapat dipercaya.

Saat kita panik, salah satu hal yang biasanya membantu adalah memilah, mana hal yang bisa kita kendalikan oleh kita sendiri, and which are the things that we can’t control. Kita mungkin tidak bisa mengontrol siapa lagi yang selanjutnya akan terdiagnosis positif. Tapi kita bisa mengusahakan agar kita tidak menjadi mata rantai yang membuat virus itu semakin menyebar. Kita tidak bisa mengontrol apa saja hoax atau berita nggak bener yang beredar, dan siapa yang memulai dan menyebarkannya. Tapi kita bisa mengendalikan diri kita untuk tidak ikut menyebar berita yang belum tentu benar.

Membatasi akses media sosial juga bisa mengurangi panik. Saya aja sebenernya akhir-akhir ini semakin jarang membuka medsos, karena isinya entah bikin sedih, kesel, atau malah tambah panik. Sedih kalau ngeliat para senior citizens yang nggak kebagian daily necessities due to people stupidly panic-buying stuff. Kesel dan panik liat berita. Well, you get the idea. And it’s not doing any good to my mental health. Jadi sekarang saya membatasi diri mengakses sosmed, hanya untuk things that make me happy (those cute pictures of animals with flower crowns, for example) or things that make me feel hopeful and still have some faith on humanity (those videos about Italian people singing together while standing on their balconies made me smile). Or use social media to connect with people that are dear to you but you can’t see in person while you are being in self-quarantine.

Another thing that is also important for you during this hard times of uncertainty: take care of yourself mentally. Do things that you enjoy.

Saya termasuk salah satu orang yang cukup beruntung karena kantor saya akhirnya menerapkan kebijakan bekerja dari rumah (terima kasih Mas Menteri atas kebijakannya :D). Dan salah satu hal pertama yang saya lakukan? Beli pensil warna. Saya kembali ke hobi lama saya: do some coloring, because it helps me to relax. I spare some time to write fics (writing is cathartic to me). I read books (it’s just so nice that I finally have the time to start reading those to-read pile of books). I watch TV series that I have been dying to watch (I cry on every single episode of Queer Eye and I am not even sorry about it).

Do simple things that you enjoy.

Yes, do all those keep health and clean stuff (it is indeed important, people!). But also, do not forget to be mindful of your mental state.

Because it’s important.

You, are important.

Take care, people 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *