Medsos: Berbagi atau Gengsi?

I can’t believe that I have that as a title for this post. So pretentious. Tapi sebenernya hal itu yang kadang kepikir oleh saya. Di masa sekarang ini, the so-called Industrial Revolution 4.0, yang namanya media sosial sudah jadi bagian yang tidak terpisahkan. Like, whenever you see someone is staring at their phone, there is a 90% chance that they are checking out their social media feed. Dan meskipun faktanya kehidupan kita udah sangat dekat sama yang namanya media sosial atau medsos, banyak banget yang juga bilang that social media is toxic. Is it true though?

Saya pribadi, ngerasanya medsos sama dengan begitu banyak hal lain di dunia ini. The problem is not the social media itself. The problem is how you handle it, how you deal with it.

Social media is nice if it makes you happy, if it put a smile on your face. It’s nice if you can get something useful out of it. But once it no longer sparks some joy for you, maybe it’s time for you to step back.

Saya masih mengakses Facebook to keep up with what is happening with my friends and families. Tapi begitu di feed saya sudah mulai muncul postingan yang membuat saya menghela nafas sambil mikir “Gitu amat sih…”, ya udah, saya log-out dulu. Saya buka Twitter karena biasanya berita lebih cepet beredar lewat Twitter. Tapi kadang kalo sudah ada thread yang gak jelas and makes me think “What the heck is wrong with people???”, that’s the time for me to log out.

And login to another platform of social media.

Nyahahahaha… Ya sama saja ya?

Dan ya kalo mau jujur, kadang-kadang ya saya juga suka penasaran sama beberapa thread tertentu, atau kalau lagi gabut, suka penasaran sama twitwar antara akun-akun yang katanya adalah akunnya para selebtwit. However, I try my best not to let those stuff really get into me.

Same thing with Instagram. Jujur, saya buta banget soal siapa aja para influencer slash selebgram yang kabarnya punya followers sampe ribuan dan tidak pernah sepi job buat endorse barang. Apalagi para Youtuber. Karena saya nggak pernah ngerasa bahwa mengikuti akun medsos mereka adalah kebutuhan buat saya. Or even something that I find to be appealing or anything. Bukan berarti saya nggak pernah ngefollow selebritis gitu. But I follow them because I like their music and songs or maybe their movies.

Basically, I believe that social media is toxic if you let it control your life.

The other thing that people often say about social media: don’t judge people based on what they post on their social media.

Which is true, to some extent.

But let’s see it the other way around.

What people post on their social media is a reflection of how they want to be seen.

Maksud saya, kenapa coba kita memilih untuk posting satu foto tertentu dan bukan yang lain? Kenapa kita memilih menulis status tertentu? Sadar atau tidak, saat memposting sesuatu, kita ingin itulah bagian dari kita yang dilihat oleh orang.

We can say that hey, don’t judge us from what we post on our social media. But at the same time, we try to shape people’s opinion on us from what we post.

So probably, let’s just say that what people post on their social media is one side of their story, but it’s not the whole story.

Untuk yang punya beberapa medsos dengan platform yang berbeda-beda, mungkin juga sebenernya ngerasa kayak gini. Bahwa apa yang kita posting itu biasanya menyesuaikan dengan kita postingnya dimana. At least for me, that’s how it works. Apa yang saya posting di Facebook nggak sama dengan di Twitter, apalagi di Tumblr. Karena saya tau, audiens di setiap platform itu berbeda, and they might have different reaction on my posts.

Anyway, terlepas dari apapun anggapan orang, ya itu tadi. Balik ke kita sendiri sih. What do we use our social media for? Are we controlling our social media, or are we letting them control our life?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *