Tentang Prejudice

Enggak. Saya bukan lagi ngomongin novelnya Jane Austen yang Pride and Prejudice (yang novelnya terkenal tapi kok ya saya belum baca). Kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, prejudice itu prasangka.

Definisinya?
prej·u·dice /ˈprejədəs/ (noun): preconceived opinion that is not based on reason or actual experience
prasangka/pra·sang·ka/ (n):  pendapat (anggapan) yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan, menyelidiki) sendiri; syak

Dan sadar atau tidak, kita sering banget punya prejudice kayak gini ke orang lain. There are times when I get slightly annoyed karena prasangka orang lain ke saya. Tapi juga, nggak jarang, saya tiba-tiba nyadar, astaga, saya gini amat ke orang lain, ternyata cuma prasangka saya ya.

Salah satu prejudice orang ke saya yang kadang-kadang bikin saya rolling my eyes: “Oh, kamu suka nonton bola ya? Pasti karena pemainnya cakep-cakep ya?”.

Elah. Ya ngapain saya begadang nonton bola kalo cuma ngeliatin pemaennya coba?  

Then again, kadang saya sendiri yang punya prejudice ke orang lain. Pernah nih, waktu saya lagi nunggu bus BRT tersayang buat berangkat ke kampus. Pas pagi iti, ada 3 orang cowok ala-ala anak punk gitu, ada yang bertato, terus ada yang bawa-bawa gitar pula. Saya semept mikir, mereka anak punk yang memang nongkrong di taman kota tempat halte bus BRT itu. Eh, tapi waktu busnya dateng, mereka pada naik juga. Saya udah sempet mikir sih, astaga, ini si para preman ini ngapain pada naik sih. Tapi pas halte ketiga, kan banyak yang naik lagi tuh. Dan pas ada ibu-ibu yang naik dan nggak kebagian tempat duduk, guess what? Salah satu dari tiga orang yang saya tuduh dalam hati sebagai preman justru jadi orang pertama yang berdiri dan menawarkan tempat duduknya ke si ibu yang baru naik itu. Sementara ada Mas-mas berpakaian rapi lengkap dengan sepatu pantofel malah cuma ngelirik sebentar, dan asyik kembali dengan ponselnya. Saya jadi merasa ketampar. Cuma karena penampilan mereka, saya langsung beranggapan bahwa mereka adalah orang-orang golongan bawah yang gak punya manners dan sopan santun.

Sebenernya jadinya prejudice ini beda tipis sih sama generalization. Prasangka kita sering muncul akibat generalisasi. Cuma karena sekelompok kecil orang dari satu golongan, kita menyimpulkan bahwa semua golongan seperti itu. Ya bener sih, generalisasi itu ada karena memang ada yang seperti itu. Then again, it would be unfair if we think that generalization is an absolute truth.

Kadang memang kita sendiri nggak sadar that we are having a prejudice toward someone. Mungkin karena itu sesuatu yang udah lama banget ada di kita, that we just keep doing it unconsciously. Kalau kita mulai sudah punya pendapat tentang orang lain, terutama jika itu adalah pendapat negatif, it would be helpful if we take a step back, and rethink again, “Sebentar, ini saya mikir kayak gini, kenapa? Apa buktinya sampai saya beranggapan bahwa dia begini begini? Memang beneran seperti itu, atau cuma saya aja yang membuat narasi saya sendiri yang seperti itu tentang dia?”

Kenapa ini penting? Karena punya prejudice ke orang, itu bisa merugikan. Nggak cuma buat orang yang jadi obyek prejudice kita. Kita sendiri juga merugi akibat prasangka kita sendiri. Why? Because when we have a prejudice towards someone, we lose the opportunity to learn from them. I firmly believe that all people have their own stories, and there is always something to earn from someone. Once we have a prejudice toward someone, we mentally refuse to listen to them, to see their point of view, and thus, we fail to learn something from them.

I’d say that half of the problem in this world is due to a lot of people are obnoxiously having hostile prejudices towards others. Racism, xenophobia, Islamophobia, antisemitism, and so many other discrimination are rooted from terrible prejudices.  

So the next time we start to have a negative opinion towards someone, even before we have any interaction with them, let’s take a step back and ask ourselves, is our opinion is based on facts or it’s simply our prejudice?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *