Every Day, by David Levithan

Jika disuruh membuat daftar buku yang saya rekomendasikan kepada orang lain, Every Day oleh David Levithan adalah salah satu yang ada di daftar rekomendasi saya. Karena banyak hal. Salah satunya: buku ini membuat kita belajar berempati. Buku ini membuat kita berhenti sejenak dan berpikir, tentang apa yang mungkin selama ini terlewat begitu saja dari benak kita. Saya pertama kali membaca buku ini tahun 2013 (waktu itu saya sempat membuat reviewnya di akun Goodreads saya). Dan saat saya membaca ulang buku ini, I still found some new things to ponder about. Yep. That’s how good this book is for me.

Ide ceritanya juga tidak biasa. Ada unsur fantasi, drama, dan roman. Tokoh utama dalam buku ini bernama A. Dan setiap hari, A bangun di dalam tubuh yang berbeda. Dan untuk hari itu, A menjalani hidup dia sebagai orang yang tubuhnya dia tempati itu.Every. Single. Day. A sebenarnya sudah merasa pasrah. Tidak lagi bertanya-tanya kenapa. Dia sudah punya sistem dan strategi sendiri, untuk berusaha menjalani hidup sebagi orang yang berbeda setiap harinya. Sampai suatu hari, dia bangun dan menjalani hidup sebagai seorang pemuda bernama Justin. Justin ini punya pacar, namanya Rhiannon. And as cliché as it may sound, A fell in love with Rhiannon.
Kalau hanya sampai sini saja, mungkin kesannya lalu… yeah, right, just another romance novel. But listen. How to tell someone you love them, when you’re always a different person? Ketika A sadar bahwa dia sudah jatuh cinta pada Rhiannon, he finally feels that his life is anchored to something. Siapapun dirinya di hari itu, A berusaha untuk menemui Rhiannon. Ketika akhirnya A memberi tahu Rhiannon tentang siapa dirinya sebenarnya (which was a bit complicated, because who is he, anyway?), Rhiannon sempat tidak percaya (wouldn’t blame her to not believed in A because well… are you going to believe it when someone told you the same thing?). Tapi akhirnya Rhiannon (berusaha) mempercayai A.

Bagi saya sendiri, sebetulnya yang menjadi daya tarik utama dalam buku ini bukan tentang hubungan antara A dan Rhiannon. Tapi tentang cerita dari setiap orang yang raganya ditempai oleh A. Setiap orang memiliki cerita masing-masing. Punya sejarah masing-masing. Dan karena A dapat memahami cerita di balik setiap orang yang dia tempati, A bisa memahami kenapa orang tersebut melakukan hal-hal yang mereka lakukan.

Melalui cerita dari setiap orang yang ditempati A, buku ini sebetulnya mengangkat banyak hal. Isu agama, kesehatan mental, LGBTQ+, perundungan, body image. This book is trying to teach us not to just have some sympathy, but also how to have some empathy. Membaca buku ini membuat saya sadar, bahwa banyak hal yang saya pikir sudah saya pahami, hanya saya pahami sebatas apa yang saya lihat. Dan itu berbeda dengan memahami suatu permasalahan sebagai orang yang betul-betul menjadi bagian dari hal tersebut.
Saya jadi ingat, saya pernah membaca entah dimana, perbedaan antara simpati dengan empati: sympathy is when you’re seeing someone’s issue from your point of view, empathy is when you’re seeing someone’s issue from their point of view.

Buku ini juga punya banyak quotes alias kutipan yang membuat saya berhenti, dan membaca kutipan itu lagi berulang-ulang. Here are some of my favorite quotes from the book.

If there’s one thing I’ve learned, it’s this: We all want everything to be okay. We don’t even wish so much for fantastic or marvelous or outstanding. We will happily settle for okay, because most of the time, okay is enough.

Kindness connects to who you are, while niceness connects to how you want to be seen.

It’s only in the finer points that it gets complicated and contentious, the inability to realize that no matter what our religion or gender or race or geographic background, we all have about 98 percent in common with each other. yes, the differences between male and female are biological, but if you look at the biology as a matter of percentage, there aren’t a whole lot of things that are different. Race is different purely as a social construction, not as an inherent difference. And religion–whether you believe in God or Yahweh or Allah or something else, odds are that at heart you want the same things. For whatever reason, we like to focus on the 2 percent that’s different, and most of the conflict in the world comes from that.
Some people think mental illness is a matter of mood, a matter of personality. They think depression is simply a form of being sad, that OCD is a form of being uptight. They think the soul is sick, not the body. It is, they believe, something that you have some choice over. I know how wrong this is.

It is its own form of conversation — you can learn a lot about people from the stories they tell, but you can also know them from the way they sing along, whether they like the windows up or down, if they live by the map or by the world, if they feel the pull of the ocean.

I am a firm believer that every person, young or old, has at least one good story to tell

Oh iya, buku ini juga pada tahun 2018 sudah diangkat menjadi sebuah film dengan judul yang sama 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *