Mandi Bungas dan Enam Perempuan yang Ngeblues

Mandi Bungas dan Enam Perempuan yang Ngeblues

Kalau kita sedang dan telah membaca suatu teks, terlebih Sastra, maka hampir takmungkin kita mengelak untuk diburu imaji, disergap makna. Setelah membaca Mandi Bungas, dengan mengamini Seno Gumira Ajidarma dalam Pengantarnya, saya melihat buku ini jelas-jelas dikonstruk oleh wacana politik gender, dengan rajutan ragam makna-imaji yang bagi saya, sangat biru, bersuara blues. Tentu, daya tarik buku ini, pertama-tama adalah karena keenam penulisnya perempuan. Masing-masing menawarkan dua judul cerpen. Adil sekali. Di situ, bunyi-bunyian khas blues itu akan kita temui pada…

Read More Read More

Pemikiran Sutan Takdir Alisyahbana tentang Nilai, Manusia dan Kebudayaan

Pemikiran Sutan Takdir Alisyahbana tentang Nilai, Manusia dan Kebudayaan

Sutan Takdir Alisyahbana is one of the Indonesian greatest intellectuals concerned with human and cultural issues. He is a man of letters, linguist, philosopher and social scientist. His background of knowledge is different from most sociologists, anthropologists and historians so that it is not surprise that his thought of culture has its own style. His thoughts are rooted in humanism which developed in Europe since Renaissance to the rise of neo-positivism. According to him, a reality is a result of intellect…

Read More Read More

Komisi Pertikaian: Dramatika Fabel dan Representasi Urbanistiknya

Komisi Pertikaian: Dramatika Fabel dan Representasi Urbanistiknya

Jumat malam, seminggu yang lalu (23/12) saya menyempatkan diri untuk datang ke Balairung Sari, Gedung Pertunjukan Seni di Taman Budaya Kalsel. Kesempatan itu sudah tersiapkan, karena sebelumnya sepucuk surat undangan dari Dapur Teater datang ke saya. Ya, mereka mengundang saya untuk jadi apresiator. Dari pengalaman nonton pertunjukan Dapur Teater malam itu, saya pun mencoba untuk mengapresiasinya secara estetik. Lalu jadilah tulisan ini. Pertunjukan tetaer malam itu merupakan Pagelaran Akhir Tahun 2016 dan dalam rangka Milad Dapur Tetaer yang ke delapan….

Read More Read More

Memuisikan Klungkung

Memuisikan Klungkung

Di 21 November (2016) yang lalu, Bang Asa (Ali Syamsudin Arsi) menghubungi saya via fesbuk. Ia minta saya membicarakan buku puisi Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta di Kindai Sastra. Oleh karena suka menikmati puisi, suka pula membicarakannya, maka saya iyakan permintaan itu. Tapi karena aslinya saya ini tak suka ngomong, maka dengan tulisan pendek ini saya harap bisa melengkapi omongan saya. Soal buku puisi Klungkung ini, yang pertama kali akan saya tawarkan untuk dibicarakan adalah mengenai tematiknya. Yakni soal Klungkung…

Read More Read More

Ujian Nasional dalam Tinjauan Kritis Filsafat Pendidikan Pragmatisme

Ujian Nasional dalam Tinjauan Kritis Filsafat Pendidikan Pragmatisme

Tulisan ini adalah sebuah kajian analitis terhadap aliran pemikiran filsafat pendidikan pragmatisme. Analisis tersebut digunakan untuk melakukan tinjauan kritis atas konsep dan pelaksanaan Ujian Nasional dalam sistem pendidikan di Indonesia. Jenis kajian ini adalah kajian pustaka dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Adapun metode analisis yang dipakai adalah hermeneutika dan interpreteasi sebagai metode yang menekankan pada perumusan makna. Hasil kajian ini menyatakan bahwa filsafat pendidikan pragmatisme adalah konsep pendidikan yang didasarkan pada pengakuan akan perubahan, proses, relativitas dan rekonstruksi pengalaman peserta didik sebagai manusia. Dalam tinjauan filsafat pendidikan…

Read More Read More

Pindah Ibukota atawa Pindah Rumah Kos

Pindah Ibukota atawa Pindah Rumah Kos

Ibukota sebuah negara modern bisa dianalogikan sebagai ‘rumah kost’. Rumah hunian sementara birokrasi negara yang dijadikan pusat aktivitas pemerintahan dan penyelenggaraan kenegaraannya, juga pusat niaganya. Seperti halnya, mahasiswa perantauan di kota Yogyakarta, yang biasa pindah kost dengan alasan efektivitas dan efisiensi studi. Ibukota negara pun dalam posisi yang sama. Ibu kota bisa dipindah ke mana saja selama dalam teritori negaranya. Selama untuk mencari efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan kenegaraan. Alasannya pun kontekstual, bisa karena faktor keamanan, perubahan geografi, maupun alasan historis…

Read More Read More

Pendidikan Karakter?

Pendidikan Karakter?

Tulisan ini, kebetulan bersinggungan dengan apa yang diingatkan oleh Anies Baswedan, ‘menteri pendidikan’ kita pada pidato sambutannya dalam upacara peringatan Hardiknas, 2 Mei 2015 di Jakarta. Dalam pidatonya yang bertema ‘Pendidikan sebagai Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila’ itu, kita diingatkan bahwa pendidikan kita jangan terjebak pada paradigma pendidikan warisan kolonial yang fokus SDA, sumber daya alam. Tapi, pendidikan kita harus lebih fokus pada SDM, sumber daya manusia yang berkarakter Pancasila. Hal ini seakan menyegarkan kembali kesadaran berbangsa kita, bahwa…

Read More Read More

Gerakan Radikal dan Kekacauan Berbahasa

Gerakan Radikal dan Kekacauan Berbahasa

Hendaknya penguasa menjadi seorang penguasa, menteri menjadi seorang menteri, ayah menjadi seorang ayah, dan anak menjadi seorang anak (Confucius, 551-479 SM). Rubrik Tajuk Banjarmasin Post edisi Kamis, 2 April lalu, menyoal tema aktual mengenai pemblokiran 19 (bukan 22) situs “media Islam” di internet yang dilakukan oleh Kemenkominfo. Adalah benar bahwa kebijakan kementerian–yang akronimnya susah untuk dilafalkan–itu sangat kontroversial dan telah memancing tanggapan riuh publik. Ada yang mendukung, ada yang protes tak setuju. Keriuhan itu wajar karena gerakan radikal adalah persoalan penting….

Read More Read More

Begal dan Filsafat Kejahatan

Begal dan Filsafat Kejahatan

Apa begal bisa difilsafatkan? Seperti filsafat eksistensialisme misalnya? Bisa. Karena segala soal dalam hidup ini bisa difilsafatkan, sejauh bisa dan mungkin untuk direfleksikan oleh nalar. Lebih-lebih kini, fenomena begal sedang menjadi persoalan aktual dan empirikal di tengah-tengah masyarakat kita. Sebagaimana diulas Banjarmasin Post dalam oleh rubrik Opini (Tribun Forum). Bahkan ditulis dalam dua terbitan berturut-turut. Yakni tulisan “Memberantas Begal” oleh Moh. Yamin (Senin, 2 Maret) dan tulisan “Maraknya Begalisme Gagalnya Pendidikan” oleh Vivi Aulia (Selasa, 3 Maret). Jika Yamin menyoroti…

Read More Read More

Puisi-Puisi Amrus Natalsya: Berterang-terang dalam Remang Kebudayaan

Puisi-Puisi Amrus Natalsya: Berterang-terang dalam Remang Kebudayaan

Melalui kehendak baik kawan-kawan Sanggar Bumi Tarung Fans Club (SBTFC), Kasisab dan Gusdurian Kalsel-lah, malam ini kita bisa membicarakan sekaligus mengapresiasi buku puisi karya seorang maestro, Amrus Natalsya, yang lebih dikenal masyarakat seni kita sebagai perupa, ketimbang penyair atau penulis puisi. Demikian karena jejak kesenimanan Amrus memang lebih banyak terekam di jalan seni rupa, melalui karya-karya lukis maupun patung-patungnya. Oleh karena konteks malam ini bincangan sastra, tentunya pembicaraan kita pun harus disandarkan pada teks puisinya, pada sajak-sajak Amrus. Tapi bersandar…

Read More Read More