Perihal Hari Filsafat Indonesia

Perihal Hari Filsafat Indonesia

Di antara tumpang tindih informasi yang menggenangi keseharian kita, berbagai materi beritanya acapkali memusingkan kepala dan mencemaskan perasaan. Mulai dari berita korupsi pejabat pemerintah, operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK, bencana alam banjir, pembunuhan pengacara, mafia bisnis tes PCR, atau Permendikbud tentang kekerasan seksual yang polemis. Jauh dari hiruk-pikuk pemberitaan itu, di pojokan yang sepi, terdengar sayup-sayup kabar yang sama sekali tidak populer. Yakni tentang perhelatan “Philo Fest ID 2021”. Suatu acara perayaan filsafat yang diinisiasi oleh generasi muda Indonesia yang meminati filsafat. Sejak tanggal 13 hingga 20 November ini (2021), beragam diskusi, debat, dan kuliah umum menjadi materi festival filsafat terbesar di Indonesia ini.

Dari sesi pembukaan acara, ada satu informasi baru yang menarik. Yakni tentang pencanangan Hari Filsafat Indonesia. Ini berita yang cukup aneh, tapi, saya kira cukup penting dan punya kontribusi visioner bagi kita. Konon, di bulan September yang lalu (2021), Pemerintah melalui Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kita telah menetapkan tanggal 19 September sebagai Hari Filsafat Indonesia.

Lalu, apa pentingnya filsafat bagi bangsa kita, bagi hidup kita? Apakah filsafat lebih penting dari persoalan korupsi, kerusakan alam, pendidikan, atau lebih penting dari agama? Barangkali, pertanyaan perihal urgensivitas ini malah kurang relevan untuk dinyatakan, utamanya di tengah-tengah gerak keseharian kita yang semakin memungkiri pertimbangan mendalam dalam bertindak, enggan untuk reflektif. Dan bukankah segenap hari-hari kita dalam putaran jam, menit, dan detiknya, hampir seluruhnya berlangsung di atas otomatisasi hidup pragmatis yang materialistik? Silakan kita renungkan. Tanggalkanlah barang sejenak tablet pintar dan Google maha tahu kita, jika memang kita masih percaya pada laku filosofis atau perenungan kritis.

Di luar penting tidak pentingnya filsafat, kalau kita masih percaya bahwa kualitas pendidikan adalah prasayarat utama kemajuan peradaban, maka di situlah filsafat memiliki sambungannya. Persisnya hubungan kontribusi filsafat dengan dengan kualitas ilmu pengetahuan dalam pendidikan kita. Sebagai kebijaksanaan hidup, produk dan laku filsafat adalah representasi dari suatu peradaban. Berbagai kebudayaan cerlang yang mengisi laju sejarah kemanusiaan, dengan produk-produk pengetahuan dan teknologi yang berharga, selalu saja diawali dan ditopang oleh tradisi berfilsafat yang baik. Tentu saja, tradisi filsafat Yunani amat berbeda dengan filsafat di India, Tiongkok, atau bahkan filsafat orang Bugis di Sulawesi.

Praktik laku demokrasi modern yang kita kenal sekarang misalnya, dapat ditelusuri pada kebijaksanaan hidup Yunani Kuno dulu. Misal pada sumber pikiran-pikiran Plato dan Aristoteles. Di wilayah “timur”, pada laku filosofis tokoh Siddharta Gautama atau Kong Hu Cu, telah kita akui menyumbangkan motor penggerak kebudayaan yang berarti. Pada hukum-hukum adat, ragam karya seni tinggi, pepatah-pepatah bijak, serta tinggalan tradisi nenek moyang kita lainnya pun adalah hasil dari filsafat, sebagai laku kebijaksanaan mereka.

Ketika dewasa ini laku hidup masyarakat kita dipenuhi oleh persoalan sosial beserta turunanya yang amat kompleks itu, maka filsafat sebagai pandangan hidup (worldview) pun dapat menjadi subjek masalahnya. Jadi, pada fenomena korupsi pejabat sebagaimana pada kasus-kasus OTT KPK, atau lebih jauh sejak kuatnya budaya KKN pada birokrasi pemerintahan kita di masa Orde Baru, di situ mengindikasikan persoalan pada kondisi worldview masyarakat kita. Ketika ragam pertikaian antarkelompok atau golongan makin mengancam keutuhan kita sebagai bangsa, maka laku hidup “berpersatuan Indonesia” (Pancasila) sebagai  worldview bangsa pun mengandaikan adanya persoalan yang kritis. Lantas di mana hubungan yang jelas antara masalah-masalah keseharian sosial kita dengan filsafat? Apa guna filsafat bagi pendidikan kita? Pada dua pertanyaan ini, saya akan menjawabnya dengan menceritakan pengalaman pribadi saya sebagai pendidik: dosen.

Ketika saya menjadi pembimbing atau juga penguji para mahasiswa yang sedang menyusun karya akhir kesarjanaan mereka (skripsi), satu nilai utama yang saya tuntut kepada mereka adalah kemampuan untuk menyatakan pendapat atau persoalan, berdasarkan argumentasi yang logis dan data yang ilmiah. Tentu saja, ini adalah esensi dari penelitian atau riset. Dari yang saya temui, masih banyak mahasiswa saya yang kesusahan dalam memenuhi parameter ilmiah dalam skrispsi itu. Baik secara tertulis (naskah skripsi) maupun lisan (presentasi hasil penelitian), mereka acapkali kesulitan dalam mengkomunikasikan pikiran dan pendapatnya. Saya kira ini juga dapat diperlebar. Bahwa persoalan budaya berpikir logis masyarakat kita juga masih perlu untuk terus dibangun. Demikian, karena meski bukan satu-satunya, namun perangkat “akal sehat” kita yang harus dioperasikan secara logis adalah penentu kualitas komunikasi masyarakat kita. Bukankah kualitas pikiran mengandaikan kualitas laku sikap dan tindakan?

Masih lemahnya budaya berpikir logis kita, biasanya akan dibawa pada pembenaran yang cukup populer. Bahwa budaya lisan yang mistikus adalah tradisi kita, ketimbang budaya tulis dan ilmiah. Bahwa nenek moyang kita memang cenderung lebih mengaktifkan nalar rasa ketimbang nalar pikir. Namun sekali lagi, itu hanyalah pembenaran yang tidak benar. Kalau kita mau tahu, bangsa Yunani sebagai pelopor filsafat modern pun pada mulanya adalah bangsa yang berbudaya mistik yang tidak ilmiah. Pun pada Inggris, Jerman, Perancis sebagai bangsa pengembang ilmu filsafat yang penting. Pada dulunya mereka juga bertradisi magis!

Pada dunia pendidikan modern kita, sebenarnya pembentukan budaya berpikir rasional dan ilmiah sudah dicoba lakukan. Ya, sebagaimana pada praktik atau proses pendidikan formal kita. Penyusunan skripsi pada jenjang pendidikan tinggi adalah satu contoh saja. Pada tingkat praksis, misalanya pembelajaran bahasa, matematika dan ilmu alam di kelas-kelas pun menjadi bagian dari pembudayaan berpikir logis itu. Artinya, penenaman nilai logika sebagai inti dari filsafat sudah berjalan dalam praktik pendidikan kita. Jika begitu, mengapa kita tak jua menuai pendidikan yang menghasilkan generasi unggul yang berbudaya ilmiah?

Meskipun filsafat sebagai ilmu sudah menjadi penyumbang darah pada perkembangan ilmu pengetahuan di dunia pendidikan kita, namun saya kira belum cukup. Di luar popularitas pseudo-filsafat semacam pengharaman berfilsafat pada tafsir keagamaan tertentu, penguatan studi filsafat dalam praktik pendidikan kita masih perlu menjadi perhatian. Dari seluruh Perguruan Tinggi Negeri (selain studi filsafat berwawasan agama di PTN agama dan juga Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara yang berstatus swasta), kita hanya dapat menyebut dua saja yang menyelenggarakan pendidikan filsafat. Yakni studi filsafat di Universitas Indonesia (UI) dan Fakultas Filsafat di Universitas Gadjah Mada (UGM). Bandingkan dengan program studi bidang ilmu lainnya yang berjumlah ratusan! Jadi, apakah kondisi pendidikan filsafat kita yang miskin ini punya korelasi dengan ragam problem praktis kehidupan sosial kita?

Barangkali, lagi-lagi, demikianlah nasib bidang ilmu yang tidak praktis. Kata Louis O. Kattsoff, filsafat tidak bisa menghasilkan roti. Tapi apakah masa depan hidup anak-cucu kita akan kita bentuk untuk menjadi tukang roti semua? Tentu tidak. Saya kira, usaha pemerintah yang baru saja menetapkan tanggal 19 September sebagai Hari Filsafat Indonesia cukup berarti dan perlu kita apresiasi. Apakah di  kemudian hari, ini akan memunculkan pelajaran filsafat di sekolah-sekolah, atau bertambahnya studi filsafat di perguruan tinggi kita, ya kita tunggu saja. Yang jelas, Hari Filsafat Indonesia akan membawa pada diskursus tentang apa dan bagaimana sosok filsafat Indonesia. Mencari makna siapa kita, untuk dapat merumuskan kita sebagai bangsa, seharusnya bagaimana dan mau ke mana? Mempopulerkan filsafat pun menjadi bernilai bagi denyut kehidupan bangsa kita. Harapannya pada saatnya nanti, filsafat Indonesia dapat menjadi landasan praktis dalam kehidupan. Serta dapat menyumbangkan pemikiran penting di tengah-tengah dinamika filsafat global.***

*Tulisan ini pertamakali terbit di koran Banjarmasin Post, 23 November 2021

2 thoughts on “Perihal Hari Filsafat Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.