Cinta, Mahalabiu, Ambiguitas dan Penistaan

Cinta, Mahalabiu, Ambiguitas dan Penistaan

URL: https://wasabi-singapore.s3.amazonaws.com/uploads/topic_item/image/3892/retina_imasia_17359001_S__2_.jpgKetua Aliansi Muslim Banua, Haris Maulidinnoor dikabarkan mendatangi markas Dirkrimsus Polda Kalsel, kemarin (6/12/2016) sore untuk melaporkan pemilik akun Facebook bernama Ova Febrian yang diduga telah melakukan penistaan agama, serupa dengan kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Pelaporan itu bermula dari sebuah postingan tentang aksi 212 oleh akun Ryma Sofyan, di media sosial. Ova Febrian yang diyakini warga Martapura tersebut berkomentar dan menuliskan pada Minggu (4/12) sore, “Engga sadar sadar aja sih??? sadar dong Ryma Sofyan, ente dibohongi pakai ayat al Quran, islam itu damai bukan memaksakan kehendak. Begitu lah komentar akun Ova Febrian (Radar Banjarmasin, 7/12/2016)

Jika ayat Qur’an dipakai orang untuk berbohong apakah berarti ayatnya yang bohong? Tentu tidak. Sangat sederhana. Lontaran serupa juga dapat kita lihat dalam cuplikan video ceramah Habib Rizieq yang diunggah antara lain oleh akun Video Terbaru, di YouTube, pada 7 November 2016, yang saya akses pada 8 Desember 2016. Akun tersebut diikuti oleh 1.615 pelanggan dan telah dilihat sebanyak 204.113 kali. Dalam cuplikan ceramah itu Rizieq secara tidak langsung membenarkan pernyataan Ahok.

Rizieq menyatakan, “Kata Nabi… orang yang paling aku khawatir akan merusak aku punya umat, akan menghancurkan aku punya umat, aku lebih takut kepada dia daripada kepada dajjal, ini orang lebih bahaya daripada dajjal. Nabi ditanya, siapa ya Rasulullah? Nabi menjawab:… ulama yang bejat, ulama yang buruk, ulama yang busuk, ulama yang suka memutarbalikkan ayat, menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal, … yang menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk membenarkan daripada kemungkaran dan kebathilannya.”

Artinya, ulama yang menggunakan ayat Qur’an untuk membenarkan kemungkaran itulah yang bohong, bukan ayatnya yang bohong. Dengan kata lain, Rizieq mengakui bahwa potensi orang untuk berbohong dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an itu ada. Mungkin juga itu bukan kebohongan tetapi hanya akibat dari perbedaan penafsiran. Mengapa Rizieq tidak dihujat? Ada konteks sosial, ideologi, dan politik yang mempengaruhinya.

Kasus Ahok telah menggiring banyak orang berpikir hitam putih dan ini sangat berbahaya. Logika derivatifnya bisa meniadakan ruang ambiguitas yang telah lama menjadi sifat dasar kata-kata. Bagi saya, kasus ini adalah dampak dari kegagalan pendidikan bahasa Indonesia yang mungkin jarang melatih logika berbahasa sehingga kasus kebahasaan yang borpotensi sensitif dengan mudah disikapi dengan penuh amarah dan dijadikan sebagai tunggangan politik. Bukan sebagai titik untuk introspeksi diri, titik untuk menerima hikmah dari setiap perbedaan tafsir yang niscaya.

Ambiguitas Ekspresi Bahasa

Mari kita melihat contoh lain. Jika Anda mendengar ucapan ini, “Pasti dia sudah kaya sejak lahir.” Apa reaksi emosi Anda? Reaksi Anda sangat tergantung dengan bagaimana hubungan emosional Anda dengan orang yang mengucapkan kata-kata itu. Kalimat itulah yang membuat Cinta marah kepada Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta 2  karena bagi Cinta kalimat itu mengembalikan Rangga pada watak masa silamnya yang sinis. Apakah penonton ikut membela sikap Cinta atau malah menyayangkannya atau tak perduli sama sekali? Salah satu kemungkinan itu kini terjadi dalam kasus yang menyita perhatian banyak orang yang terperangkap dalam realitas media.

Wajar jika para ahli bahasa berbeda pendapat tentang makna pernyataan di Pulau Seribu itu karena dalam memaknai ujaran bahasa, orang bisa melibatkan emosi. Salah paham jadi potensi yang niscaya. Semua pernyataan kebahasaan bisa dipelintir. Setiap pelintiran memiliki manfaat sekaligus mudarat. Memahami kenyataan ini dapat membimbing kita untuk bisa menahan diri, menunda pemaknaan tunggal dan mengkaji rangkaian pemaknaan selanjutnya. Begitulah solusi kultural bekerja: meluaskan cara pandang, menimbang beragam sudut pandang, memahami keterbatasan pandang, memahami keterbatasan diri dan orang lain, sebagai bahan utama merawat harmoni dengan sesama manusia.

Orang Banjar memiliki kecerdasan kebahasaan yang disebut mahalabiu.  Kalau Anda mendengar ungkapan mahalabiu seperti: sembahyang boleh dilanggar atau sembahyang itu nomor dua, jangan cepat-cepat menuduh mereka menista agama karena dalam konteks mahalabiu ungkapan-ungkapan itu untuk mengajak mitra bicara tersenyum mendengar permainan kata yang mereka buat. Ketika ungkapan sembahyang bisa di langgar dilisankan, perbedaan makna antara “di langgar” dan “dilanggar” tak seterang dalam tulisan. Permainan imbuhan dan preposisi “di” yang membuat ujaran itu bermakna ganda. Tapi juga tak bisa dicegah jika ada orang yang tak suka dengan ungkapan itu karena alasan bahwa ungkapan seperti itu termasuk mempermainkan agama. Ya, begitulah realitas sosial bahasa. Maknanya tidak hanya berada secara objektif dalam tata bahasanya tetapi juga di kepala dan hati orang-orang yang memaknainya.

Ada banyak contoh ungkapan kebahasaan yang bagi seseorang bermakna biasa, bahkan tak bermakna apa-apa, bisa sangat menyakitkan bagi orang lain. Lalu siapa yang paling benar dalam memaknai sebuah tuturan? Dalam kritik sastra ada banyak sudut pandang dalam memaknai ekspresi kebahasaan. Perbedaan cara pandang itu bukan untuk saling menghakimi tetapi saling memahami.

Karena tingkat pemahaman yang berbeda orang bisa berbeda dalam memaknai frase “penistaan agama” di luar arti yang telah tertuang dalam undang-undang. Tidak semua penistaan agama yang berhamburan di media sosial diseret ke meja hijau. Sementara ada kasus-kasus tertentu yang tidak dapat dimaafkan. Kondisi kemanusiaan yang penuh paradoks dan ironi. Masyarakat yang mandi basah kemunafikan. Lantas kesia-siaan inikah yang ingin dirayakan. Sementara banyak hal baik yang dapat dikerjakan sebagai tahap-tahap kecil menghadirkan kebaikan bagi sesama manusia. Keluar dari perangkap polarisasi yang tidak mau saling memahami dan memaafkan itu menjadi strategi penting untuk menyelamatkan hubungan kemanusiaan kita. Berharap semua kegaduhan ini segera selesai tanpa korban.

 Takdir Perbedaan

Jika pada ucapan sesama manusia saja kita bisa salah tafsir, apakah mungkin manusia tidak bisa salah menafsirkan firman Tuhan? Potensi salah baca dari klaim kebenaran kita perlu terus kita periksa kembali agar kita selalu bisa mengoreksi diri sendiri. Sebagaimana lazim kita berkata “wallahua a’lam bissawab”, sebagai ungkapan pengakuan atas kefakiran pengetahuan kita, dan bahwa pengetahuan dan kebenaran tertinggi hanya milik Tuhan,  apakah masih relevan mengadili ucapan seseorang berdasar atas tafsir kebenaran nisbi? Jika kita termasuk orang yang percaya bahwa tak ada tafsir yang sepenuhnya netral, apakah benar jika kita berjuang mati-matian untuk menghabisi orang yang punya keyakinan tafsir yang berbeda? Mungkin begitulah cara kerja para ekstrovert.

Jika perbedaan tafsir itu adalah hikmah dari keniscayaan perbedaan yang ditakdirkan Tuhan, bukankah memerangi atau bahkan menghabisi orang-orang berbeda pandangan juga bisa berarti tindakan memerangi takdir Tuhan?

Dalam ketidakpahaman saya, saya mohon kepada semua yang terlibat meramaikan potensi perpecahan untuk kembali menarik diri. Kembali merenungkan hakikat ambiguitas bahasa. Bahwa ekspresi kebahasaan apapun berpotensi untuk disalahpahami. Dalam sistem hukum yang masih kacau, solusi kultural dapat ditempuh untuk meminimalkan kemudharatan.

Solusi kultural itu dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: Pertama, yang merasa atau telah dianggap bersalah cepat meminta maaf dengan tulus secara lisan dan melalui tulisan. Kedua, yang bersalah berkomitmen untuk tak mengulangi lagi. Ketiga, perbedaan pandangan disampaikan secara tertulis dengan mengemukakan argumen-argumen yang rasional dan berusaha untuk mengurangi potensi emosi. Terakhir, mari kita sama-sama berlatih untuk memaafkan orang yang telah mengaku bersalah dan sungguh-sungguh ingin memperbaiki dirinya. Dengan cara ini, para orang tua yang sedang bertikai memberikan pendidikan peradaban kepada generasi muda. Bukankah Tuhan tidak suka dengan orang yang melampaui batas?

Dalam kebudayaan yang masih dominan lisan, kita sesungguhnya memiliki kelenturan sikap yang tinggi karena budaya lisan memahami hakikat leburnya batas-batas dan ketidakpastian. Kegaduhan yang terjadi beberapa bulan terakhir di media sosial sebagai bentuk media kelisanan elektronik, bisa juga diselesaikan dengan dengan satu langkah mudah, yakni menutup saluran kelisanan elektronik kita dari sebaran provokasi media yang hampir semuanya sibuk mengabarkan kepentingan dan kebenaran versinya sendiri. Dengan cara demikian mungkin kita akan dinilai jadi orang yang sibuk memikirkan diri sendiri. Biarkan saja, toh mereka juga tidak paham batas-batas yang mereka yakini sepenuhnya dan juga memikirkan kepentingan kelompoknya sendiri. Namun, dalam situasi penuh emosi langkah ini juga bisa dinilai membela. Ah, repot memang melawan logika hitam-putih. Yang dominan hanya siang dan malam, lupa bahwa ada petang dan fajar. Ada peluang untuk tidak diseret polarisasi yang ekstrem.

Dalam konteks ambiguitas ekspresi bahasa, tulisan ini pasti juga dipahami ganda. Pasti ada yang suka dan benci, dan bahkan tidak perduli. Jika demikian, buat apa memaksa orang setuju dengan kita? Yang penting ketiga keniscayaan itu tidak perlu menggaduhkan hidup dalam dunia maya dan nyata. Semua biasa saja, tak ada yang istimewa. Seorang kawan berkata, “Ini sah-sah saja dalam politik. Tak ada kebenaran, kawan, dan lawan abadi dalam politik. Yang abadi hanya kepentingan dan kebohongan.”

Depok, 8/12/2016

Dimuat Radar Banjarmasin, 12/12/2016, dengan judul “Derivasi Penistaan Agama”

2 thoughts on “Cinta, Mahalabiu, Ambiguitas dan Penistaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *