ANATOMI RHIZOMA DAN UMBI

Petunjuk:

  1. Silahkan duduk per kelompok sesuai dengan kelompok praktikum
  2. Pelajari materi berikut ini dan jawab soal evaluasi yang pada pada bagian bawah
  3. Tolong jangan ribut

Selamat Belajar

Merupakan batang dalam tanah, yang terdiri dari :
o Epidermis
– Derivat epidermis berupa rambut uniseluler.
– Pada rhizom yang tua, kadang-kadang epidermis telah rusak, sehingga fungsi epidermis diambil alih oleh periderm.
o Korteks
Sifatnya parenkimatis atau feloid kalau tersusun oleh jaringan gabus yang terdiri atas beberapa lapis sel.
o Jaringan Gabus
Berasal dari felogen yang tersusun radier beberapa lapis sel.
o Parenkim Korteks
– Terdiri atas sel-sel yang parenkimatis dengan RAS.
– Sel-selnya mengandung cadangan makanan yaitu amilum, minyak atsiri dalam sel-sel sekretori sebagai idioblas.
o Berkas Vaskuler
Tipe kolateral tertutup dan dikelilingi oleh jaringan fibrovaskuler.
o Endodermis
– Dinding selnya mengandung suberin, lignin dan selulose yang tipis.
– Dinding radial relatif tebal.
– Terdiri dari selapis sel yang membentuk lingkaran
o Stele
– Terutama terdiri atas parenkim sebagai jaringan dasar dengan RAS.
– Selnya mengandung amilum sebagai cadangan makanan.
– Di daerah stele juga dijumpai idioblas.
– Berkas vaskuler yang diselubungi jaringan fibrovaskuler sebagai jaringan penguat.
– Berkas vaskuler terdapat baik pada korteks, maupun stele, pada bagian yang berhadapan dengan endodermis tidak diselubungi oleh jaringan fibrovaskuler.

Silahkan Jawab evaluasi dengan mengklik tautan berikut link 

UMBI
o Periderm
– Selnya tersusun radier.
– Bentuk pipih, terdiri atas beberapa lapis sel.
o Korteks
– Terdiri atas parenkim yang berdinding tipis, berbentuk poligonal, mengandung cadangan makan dan kadang-kadang dijumpai idioblas.
o Silinder Vaskuler
Terdiri atas :
– Perimedula : daerah ini terdapat b.v dengan tipe yang sesuai dengan tipe b.v pada batan$yq kadang-kadang lebih sederhana.
– Empulur : yang terdiri atas parenkim dengan cadangan makanan berupa amilum dan idioblas.

BULBUS = UMBT LAPIS
Terdiri atas sisik daun yang tersusun atas jaringan parenkimatis. Sisik daun ini menyelubungi bagian pangkal daun.
-Pangkal l)aun
Dengan susunan epidermis pada bagian luar selanjutnya mesofil berupa spons parenkim dan diantaranya terdapat idioblas berupa sel/ruang lendir. Berkas
vaskuler seperti pada daunnya.
-Primordium Daun
Merupakan organ yang kelak membentuk daun.
-Meristem Apikal
Merupakan bagian yang terbentuk paling dalam dari lapisan pangkal daun.

Silahkan Jawab evaluasi dengan mengklik tautan berikut link

ORGANOGENESIS (Pembentukan Indera dan Kulit)

  1. Proses Pembentukan Mata

Pembentukan mata merupakan proses yang sangat kompleks dimana setiap tahap memerlukan koordinasi antar jaringan yang berkontribusi (Moshiri : 2006, 3).

Proses pembentukan mata (Salder: 2010, 385-395) :

  1. Mata mulai tampak pada mudigah 22 hari sebagai sepasang alur dangkal disamping otak depan.
  2. Vesikel melekat ke ectoderm permukaan dan memicu perubahan di ectoderm yang diperlukan untuk membentuk lensa.
  3. Vesikula optika mulai mengalami invaginasi dan membentuk cawan optic berdinding ganda.
  4. Lapisan dalam dan luar dari cawan ini mula-mula dipisahkan oleh suatu lumen, ruang intraretina.
  5. Lumen ini segera lenyap dan kedua lapisan tersebut berhadapan satu sama lain.
  6. Invaginasi tidak terbatas pada bagian tengah cawan optic tetapi juga melibatkan sebagian dari permukaan inferior yang membentuk fisura koroidea.
  7. Pembentukan fisura ini memungkinkan arteri hialoidea mencapai ruang dalam mata.
  8. Sel-sel ectoderm permukaan yang pada awalnya menempel dengan vesikula optika, mulai memanjang dan membentuk plakoda lentis (lempeng lensa).
  9. Vesikula lentis terlepas dari ectoderm permukaan dan berada di mulut cawan optic.
  10. Melalui suatu alur dibagian inferior vesikula optika, fisura koroidea, arteri hialoidea (kemudian arteri sentralis retinae) masuk kemata.
  11. Serabut saraf mata juga menempati alur ini untuk mencapai area optic di otak.
  12. Kornea dibentuk oleh suatu lapisan ectoderm permukaan.
  13. Stroma yang bersambungan dengan sclera.
  14. Lapisan epitel yang berbatasan dengan bilik mata.

Mata Berkembang Dari 3 Lapis Embrional Primitive :

  1. Ektoderm Permukaan, membentuk :
  • Lensa mata ( merupakan lapisan ektoderm di dalam lapisan mesoderm)
  • Glandula lacrimalis
  • Conjunctiva
  1. Ektoderm Neuralmenghasilkan vesikel optik dan mangkok optik untuk membentuk retina dan serta N. Optikus.

3. Mesoderm membentuk otot ekstra okuler.

   TAHAP VESIKEL OPTIK

Pada janin 2,5 mm ( 2 minggu ) terbentuk plica neuralis  yang membentuk tuba neuralis pada minggu ke 3

Pada janin 9 mm (4 minggu)  tuba neuralis membentuk Vesicel optik pada tiap sisi otak depan

vesicel optik menempel pada ektoderm permukaan menginduksi pembentukan lensa

  TAHAP MANGKOK OPTIK

Pada janin 5 mm (akhir minggu 4) vesikel optik berinvaginasi membentuk mangkok optik

terbentuk lapisan pigmen & saraf retina

Ringkasan Waktu Pembentukan Mata

  1. Palpebra & Apparatus Lacrimalis: Kuncup palpebra mulai terbentuk pada janin 16 mm (6 minggu), menyatu pada janin 37 mm (8 minggu), kemudian memisah pada bulan ke 5.
  1. Sclera & Otot Ekstra Okuler selesai pada janin 5 bulan.
  2. Lensa Mata selesai pada bulan ke 7.
  3. Retina: Pada bulan ke 8 makula lebih tebal dari bagian retina yang lain dan terjadi percekungan macula lutea, Makula berkembang secara anatomis sampai berumur 6 bulan sesudah lahir

2. Proses Pembentukan Organ Penciuman

 Pembentukkan organ penciuaman atau hidung secara embriologi yang mendasari pembentukan anatomi sinonasal dapat dibagi menjadi dua proses antara lain :

a)      Pertama, Embrional bagian kepala berkembang membentuk dua bagian rongga hidung yang berbeda. Sejak kehamilan berusia empat hingga delapan minggu , perkembangan embrional anatomi hidung mulai terbentuk dengan terbentuknya rongga hidung sebagai bagian yang terpisah yaitu daerah frontonasal dan bagian pertautan prosesus maksilaris. Daerah frontonasal nantinya akan berkembang hingga ke otak bagian depan, mendukung pembentukan olfaktori. Bagian medial dan lateral akhirnya akan menjadi nares (lubang hidung). Septum nasal berasal dari pertumbuhan garis tengah posterior frontonasal dan perluasan garis tengah mesoderm yang berasal dari daerah maksilaris.

b)      Kedua, bagian dinding lateral hidung yang kemudian berinvaginasi menjadi kompleks padat, yang dikenal dengan konka (turbinate), dan membentuk ronga-rongga yang disebut sebagai sinus. Ketika kehamilan memasuki usia enam minggu, jaringan mesenkim mulai terebentuk, yang tampak sebagai dinding lateral hidung dengan struktur yang masih sederhana. Usia kehamilan tujuh minggu, tiga garis axial berbentuk lekukan bersatu membentuk tiga buah konka (turbinate). Ketika kehamilan berusia sembilan minggu, mulailah terbentuk sinus maksilaris yang diawali oleh invaginasi meatus media. Dan pada saat yang bersamaan terbentuknya prosesus unsinatus dan bula ethmoidalis yang membentuk suatu daerah yang lebar disebut hiatus emilunaris. Pada usia kehamilan empat belas minggu ditandai dengan pembentukan sel etmoidalis anterior yang berasal dari invaginasi bagian atap meatus media dan sel ethmoidalis posterior yang berasal dari bagian dasar meatus superior. Dan akhirnya pada usia kehamilan tiga puluh enam minggu , dinding lateral hidung terbentuk dengan baik dan sudah tampak jelas proporsi konka. Seluruh daerah sinus paranasal muncul dengan tingkatan yang berbeda sejak anak baru lahir, perkembangannya melalui tahapan yang spesifik. Yang pertama berkembang adalah sinus etmoid, diikuti oleh sinus maksilaris, sfenoid , dan sinus frontalPembentukan Kulit

3. Pembentukan Kulit
Proses pembentukan kulit terdiri atas suatu lapisan luar yang disebut epidermis, berupa suatu epitel dan berasal dari lapisan lembaga ectoderm. Selain itu kulit juga dibangun oleh suatu lapisan jaringan ikat yang disebut dermis dan berasal dari lapisan lembaga mesoderm (Handari Susilo: 1993, 20).

Proses pembentukan kulit dimulai dari pembentukan bumbung ectoderm yaitu :

  1. Terbentuknya selapis sel epidermis.
  2. Terbentuknya dua lapis sel periderm dan stratum germinativus.
  3. Sel-sel mesenkim muncul di bawah epidermis.
  4. Terbentuknya stratum corneum dari epidermis sebelah luar yang memiliki lapisan sel menanduk dan mengelupas terus-menerus.
  5. Dari derivat epidermis yang ber- texture “tanduk” tumbuh berupa papilla yang menjorok ke dermis.
  6. Dari epidermis tumbuh lapisan enamel sisik yu dan gigi. Selain itu, tumbuh pula kelenjar peluh, minyak dan kelenjar susu yang berasal dari tonjolan epidermis.
  7. Sedangkan warna kulit berasal dari chromatophore yang dihasilkan dari neural crest (jambul neural).

 

Kulit memiliki asal ganda: lapisan supervisial, epidermis, terbentuk dari ectoderm permukaan. Lapisan dalam, dermis berasal dari mesenkim dibawahnya (Salder: 2010, 397-399).

  1. Epidermis

Pada awalnya, mudigah dilapisi oleh satu lapisan sel ectoderm. Pada awal bulan kedua, epitel ini membelah, dan terbentuk suatu lapisan sel gepeng, periderm atau epitrikum, dipermukaannya. Pada proliferasi sel selanjutnya dilapisan basal, terbentuklah zona ketiga zona intermediet. Pada akhir bulan keempat epidermis memperoleh susunan definitifnya dan dapat dikenali 4 lapisan.

  1. Dermis, berasal dari mesoderm lempeng lateral dan dermatorm dari somit. Selama bulan ketiga dan keempat, jaringan ini, korium, membentuk banyak struktur papilar irregular, papilla dermis yang menonjol keatas epidermis.

 

STOP MENGELUH!!! GANTI DENGAN DOA

Assalamu’alaykum.

Semoga kita selalu dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan keberkahan.

Tulisan ini akan saya awali dengan cerita. Beberapa waktu yang lalu saya membaca tulisan di salah satu grup WA yang saya ikuti. Tulisan tersebut ada plesetan dari lagu anak-anak yang ngehits berjudul “Naik-naik ke puncak gunung” (mudah-mudahan saya tidak salah). Lagu tersebut diplesetkan untuk menceritakan tentang kenaikan tarif listrik, BBM, STNK, TNKB, hingga cabai. Memang awalnya agak menghibur, karena saya juga salah satu rakyat Indonesia yang mungkin akan terkena dampak langsung kenaikan harga dan tarif tersebut. Ditambah ada anggota grup lainnya yang menimpali dengan candaan bahwa lagu tersebut cocok dinyanyikan di depan gedung DPR pada saat demo. Tapi sayngnya sekarang sudah tidak jamannya lagi demo seperti itu, malah yang ada demo masak dan lain-lain, candaan ini membuat saya semakin terhibur. Tetapi ada tulisan anggota grup lain yang membuat saya berhenti tertawa. Ya, beliau mengatakan lebih baik jika lagu tersebut diubah menjadi do’a. Yuppp, hati saya langsung setuju dengan saran beliau tersebut. Tanpa pikir panjang seandainya ini musyawarah untuk minta suara saya setuju atau tidak saya akan langsung tunjuk tangan dan berkata “saya setuju. Atau seandainya ini adalah forum juri indonesia idol, saya akan langsung mengatakan “kalau aku sih yes” (hehe, pinjam istilah mas anang).

Alasannya apa? Saya tidak langsung menemukan alasannya. Tetapi, setelah saya berpikir dengan logis lebih baik jika segala keluhan kita diganti dengan doa yang baik dan positif. Kita kadang terjebak dalam situasi sulit. Saya pribadi terkadang merasa jika keputusan pemerintah menaikkan harga adalah keputusan yang memberatkan. Padahal saya bukan ahli ekonomi dan saya tidak termasuk anggota pemerintahan yang juga mungkin tengah pusing memikirkan kebijakan apa yang harus diambil agar masyarakat dapat sejahtera. Mungkin disinilah peran komunikasi pemerintah dengan rakyatnya harus lebih intim. Lebih dekat. Pemerintah harus bisa menjelaskan dan meyakinkan rakyat bahwa ini adalah keputusan yang terbaik yang harus diambil tentu disertai dengan alasan logis dan alasan yang sangat bisa diterima oleh rakyat.

Lalu bagaimana dengan kita? menurut saya kita harus terus kritis. Beri kritik dan saran yang membangun. Jika memang pemerintah mengambil keputusan yang dirasa memberatkan, maka sebaiknya kita membantu mencarikan solusi yang lebih baik. kritik yang baik adalah kritik yang disertai saran yang membangun. Jangan hanya bisa membully, membuat candaan yang bisa menimbulkn ketersinggungan pihak lain. Lantas bagaimana dengan kata “mengeluh”. ada yang mengatakan mengeluh adalah sifat alami manusia. Tetapi alangkah lebih baik jika keluhan kita kita ganti dengan doa sembari memohon dan berharap yang terbaik dari Sang Pencipta Semesta.

Kuriositas dan Rasa Peduli (catatan kecil di jalan A. Yani Banjarmasin-Amuntai)

Assalamu’alaykum. Selamat pagi.

Selamat Tahun Baru Masehi 2017. Selamat datang di Tahun Baru. Selamat tinggal tahun 2016. Tetapi sebaiknya jangan hanya mengucapkan selamat tinggal kepada tahun 2016. Ucapkanlah juga terima kasih. Biar bagaimanapun 2016 adalah tahun yang sudah kita lewati dan sudah tentu tahun tersebut mengiringi banyak hal dan kejadian. Baik senang, sedih, bahagia, suka, duka, dan sebagainya. Kita ambil contoh hal yang bahagia yang terjadi ada tahun 2016. Bagi pendukung klub sepakbola Real Madrid atau yang biasa disebut madridista (mudah-mudahan tidak salah penulisannya, karena saya bukan pendukung Real Madrid), tahun 2016 adalah tahun yang menggembirakan. Bagaimana tidak, pada tahun 2016 El Real (sebutan Real Madrid) berhasil “membungkus” piala UEFA Champions Leageu (UCL) dan Trofi Piala Dunia Antar Klub untuk diangkut ke kota madrid. Ini salah satu contoh hal yang menggembirakan pada tahun 2016. Mungkin cukup satu itu saja untuk contohnya. Untuk hal sedih dan bebau duka saya rasa tidak perlu diberikan contoh. Karena tidak semua orang senang membicarakan hal tersebut.

Pagi di awal tahun ini saya berangkat dari Banjarmasin ke kota Amuntai untuk menjemut anak dan istri dengan “numpang” angkutan umum Mitsubishi L300 (colt). Iseng-iseng mungkin karena rasa bosan saya memperhatikan kondisi sekitar (teliti tapi santai). Ada beberapa kejadian yang bisa jadi catatan dan pelajaran bagi saya. Berawal dari hal yang sangat sederhana.

  1. Kejadian pertama yang dapat saya tangkap adalah tepat keluar dari kota Martapura, terjadi kecelakaan antara pengendara sepeda motor dengan mobil angkutan umum (semoga korban dapat diselamatkan dan tidak menyebabkan jatuhnya korban jiwa). Yang menarik bagi saya  adalah banyaknya warga yang berdatangan dan berkumpul di lokasi kejadian. Ada yang membantu membersihkan serpihan motor yang bertebaran di tengah jalan karena takut mengganggu penegndara lain yang melintas. Ada juga yang membantu mengevaluasi korban, sedangkan sebagian yang lain spertinya penasaran dan ingin meihat kondisi korban tapi malah takut untuk mendekat. Berdasarkan “fenomena” yang saya lihat saya berasumsi bahwa karakter orang yang terakhir saya sebutkan adalah karakter yang menunjukkan bahwa dalam diri manusia selalu ada rasa ingin tahu atau yang disebut kuriositas. Kuriositas ini yang menjadi sifat dasar manusia dan alasan bagi manusia dari zaman dulu sampai zaman sekarang untuk selalu memperhatikan, belajar, dan meniliti sehingga dapat terjadi perkembangan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini. Sedangkan karakter yang saya sebutkan sebelumnya (yang membersihkan dan mengevaluasi korban) juga merupakan karakter dasar yang ada pada manusia, yaitu rasa kepedulian sosial. Sifat ini yang kemungkinan bisa tertutupi oleh sifat negatif, misalnya egois. Sehingga kekuatan rasa peduli tidak sekuat kuriositas pada manusia. Rasa peduli harus selalu kita jaga. Ya, kita sendiri yang harus menjaga.
  2. Setelah memasuki kota Binuang perhatian saya tertarik pada penumpang lain yang duduk di depan saya atau tepatnya di baris pertama. Pemandangan dibaris pertama sangat kontras dengan apa yang terjadi dengan penumpang yang ada di belakang saya atau yang berada di baris ketiga. Penumpang yang ada di baris pertama adalah anak muda yang saya perkirakan usianya baru 20an, sedangkan yang dibelakang saya adalah kumpulan ibu-ibu yang usianya saya prediksi sudah lebih dari 50 tahun. Tentu beda generasi. Yang tampak adalah, penumpang di depan saya yang merupakan anak muda asik dengan dirinya masing-masing (tentu dibantu dengan gadget dan smartphonenya), sedangkan ibu-ibu di belakang saya adalah generasi yang mengerti bahwa selama ada manusia lain di sekitar kita, kita harus peduli. Sehingga pemandangan yang ada sangat kontras. Yang di depan sangat sunyi dan sepi, sedangkan yang di belakang sangat rame dengan obrolan mereka. Jika ditanya lebih baik yang mana, anda yang membaca tulisan ini mungkin bisa menilai dari sudut pandang masing-masing. Karena jawaban pertanyaan ini sangat relatif. Tetapi jika saya ditanya mana yang lebih saya sukai, saya akan menjawab rombongan ibu-ibu yang asik ngobrol di belakang saya. Mengapa? Jawabannya ada pada point nomor 3 (tetapi saya pastikan alasanny bukan karena jenis kelamin, hehe). Lanjut ke nomor 3. Cekidot!!!
  3. Berdasarkan obrolan ibu-ibu di baris an belakang saya, ternyata banyak yang bisa di ambil pelajaran. Misalnya, bagaimana kondisi di lingkungan sekitar masing-masing. Kemudian sekolah mana yang lebih baik. Jenis pendidikan seperti apa yang cocok bagi anak masing-masing dan banyak hal lain yang bisa didiskusikan lagi. Tetapi bagian yang paling penting dan mengejutkan dari mereka adalah ternyata setelah ditelusuri silsilah masing-masing, mereka adalah keluarga (meskipun tidak terlalu dekat berdasarkan silsilah). Sehingga dengan sendirinya mereka menambah list saudara yang ada di daftar keluarga mereka yang mungkin sebelumnya tidak tercatat. Inilah alasan mengapa saya lebih suka dengan kondisi ibu-ibu yang asik ngobrol di barisan belakang saya. Seandainya ibu-ibu tersebut asik memainkan smartphone dan gadget mungkin mereka tidak akan pernah tahu jika mereka adalah keluarga.

Mungkin ini yang bisa saya ceritakan pagi ini. Mohon maaf disini saya terkesan seperti “tukang nguping”. Tapi percayalah saya hanya ingin mendengar hal-hal yang baik dan menyenangkan. Bukan hal buruk, apalagi itu terkait aib orang lain.

Selamat pagi, selamat menikmati sarapan ketupat kandangan (karena pada saat saya mempiosting tulisan ini posisi saya ada di kota kandangan). Semoga bermanfaat.

Respirasi

Sistem respirasi adalah sistem yang berfungsi untuk mengambil oksigen dari udara luar dan mengeluarkan karbondioksida dari dalam tubuh. organ pada respirasi berbeda-beda pada setiap organisme hidup. Berikut disajikan 2 contoh sistem respirasi pada organisme yang berbeda. Amatilah, kemudian analisis dan bandingkan perbedaan antara kedua organisme tersebut!

 

 

 

 

 

 

 

 

UTILIZATION POTENCY OF PALMAE PLANT FAMILY AT BAJUIN WATERFALL AREA OF TANAH LAUT REGENCY

UTILIZATION POTENCY OF PALMAE PLANT FAMILY AT BAJUIN WATERFALL AREA OF TANAH LAUT REGENCY

 M. Arsyad

Lambung Mangkurat University, Faculty of Teacher Training and Education,

Jl. Brigjend. H. Hasan Basri Banjarmasin, South Kalimantan

muhammadarsyad@unlam.ac.id

as poster presenter in “The 1st International Conferency on Innovation and Commercialization of Forest Product on November 22-23th 2016

Abstract: Palmae is one the plant families that can be found in tropical and subtropical regions, Tanah Laut. Bajuin waterfall area is one of the areas with several species of Palmae family. Most part of the Palmae family plants can be utilized such as the fruit and the stem of Cocos nucifera. The Objectives of the research was to determine utilization potency of the Palmae family plant by people at the Bajuin waterfall area. The method used was direct observation with inventory of the Palmae family species that exists at the Bajuin waterfall area. The information and data about utilization potency of the Palmae plant family was obtained by using interview and was supported by secondary data from literature. The results showed that there were 8 (eight) Palmae families species found. 6 (six) of them have the utilization potency. Species of Palmae family that have utilization potency in forms of the stem are Caryota monostachya, Calamus ovoideus, Cocos nucifera, and Areca catechu. Species of Palmae family that has potency in the leaves is Cocos nucifera Species of Palmae family that has potency in the fruits are Salacca edulis, Cocos nucifera, and Areca catechu. Species of Palmae family that has potency in the sap is Arenga pinnata.

Keywords: Utilization potency, Palmae family, Bajuin Waterfall

POLA DISTRIBUSI DAN DOMINANSI ALGA MIKRO DI KAWASAN PERSAWAHAN DESA SUNGAI LUMBAH KABUPATEN BARITO KUALA

POLA DISTRIBUSI DAN DOMINANSI ALGA MIKRO  DI KAWASAN PERSAWAHAN DESA SUNGAI LUMBAH KABUPATEN BARITO KUALA

M. Arsyad

Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lambung Mangkurat

Jl. Brigjend H. Hasan Basri No. 87 Kayutangi Banjarmasin 70123 Indonesia

Email: muhammadarsyad@unlam.ac.id

dipresentasikan dan diterbitkan pada prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan ULM tahun 2016 pada tanggal 12 November 2016

 

Alga merupakan organisme yang memerlukan Nitrogen dan Fosfor dalam pertumbuhannya. Kawasan persawahan adalah salah satu kawasan yang memilki kandungan Nitrogen dan Fosfor yang tinggi. Salah satu factor penyebabnya adalah penggunaan pupuk oleh petani. Secara ekologis alga berperan sebagai penyedia oksigen dan makanan (produsen) pada ekosistem perairan. Oleh karena itu penting untuk mengetahui keberadaan alga mikro di suatu ekosistem lahan basah atau perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola distribusi dan dominansi alga mikro di kawasan persawahan desa sungai lumbah kabupaten barito kuala. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif eksploratif dengan teknik pengambilan sampel secara acak beraturan. Pengambilan sampel menggunakan plankton net pada 24 titik litian dengan 3 kali pengulangan. Pola distribusi ditentukan dengan menggunakan rumus indeks Morisita dan Dominansi ditentukan dengan  menghitung indeks Dominansi. Hasil penelitian menunjukkan ada 10 genus alga mikro yang memiliki pola distribusi seragam, yaitu Fragilaria, Tabellaria, Spyrogyra, Closterium, Merismopedia, Stauroneis, Terpsinoe, Chroococcus, Chlorococcum, dan Staurastrum. Sedangkan 2 genus alga mikro lain yang ditemukan memiliki pola distribusi mengelompok, yaitu Pinnularia dan Navicula. Nilai  Indeks dominansi mikro alga di kawasan persawahan Desa Sungai Lumbah Kabupaten Barito Kuala adalah 0,652 yang berarti komunitas alga di kawasan tersebut adalah sedang.

 

Kata Kunci: Pola Distribusi, Dominansi, Alga Mikro, Persawahan

 

ABSTRACT

 

Algae are organisms that require Nitrogen and Phosphorus for its growth. Paddy fields is one area that have Nitrogen and phosphorus are high. One cause is use of fertilizers by farmers. In aquatic ecosystems algae helpful as a provider of oxygen and food maker. It is therefore important to determine the presence of microalgae in a wetland or aquatic ecosystems. The objectives of the research were to determine the distribution patterns and the dominance of microalgae in paddy fields Sungai Lumbah village Barito Kuala Regency. The method used is descriptive exploratory with random sampling technique irregularly. Plankton net used for sampling at 24 points with 3 repetitions. The distribution pattern was determined using Morisita Index formula and Dominance is determined by calculating Dominance index. The results showed there were 10 genera of micro algae that have regular distribution pattern, its Fragilaria, Tabellaria, Spyrogyra, Closterium, Merismopedia, Stauroneis, Terpsinoe, Chroococcus, Chlorococcum, and Staurastrum.  Two other micro algae genera were founded have clumped distribution patterns, its Pinnularia and Navicula. Dominance index of micro algal in paddy fields Lumbah Sungai Barito Kuala is 0.652 its means microalgae communities in the region is medium.

 

Keywords: Distribution Pattern, Dominance, Microalgae, Paddy fields

KERAPATAN DAN POLA DISRIBUSI TERATAI (Nymphaea sp) DI PADANG PENGGEMBALAAN KERBAU RAWA DESA PANDAK DAUN KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN

DENSITY AND DISTRIBUTION OF PATTERN LOTUS (Nymphaea sp) IN GRAZING AREA OF SWAMP BUFFALO,

PANDAK DAUN VILLAGE HULU SUNGAI SELATAN REGENCY
M. Arsyad

Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat,

Jl Brigjend. H. Hasan Basri No. 87 Kayutangi, Banjarmasin, Indonesia

Email: muhammadarsyad@unlam.ac.id

dipresentasikan dan diterbitkan pada Prosidimg Seminar Nasional 2016 Lahan Basah ULM tanggal 5 November 2016

Abstract.  Lotus (Nymphaea sp) is one of marsh plants type. Part of Lotus can be utilized, for example lotus seeds can be consumed because it contains carbohydrates, Lotus potentially be ornamental plants, and Lotus used in traditional ceremonies. Pandak Daun Village is a marsh area that are grazing area of swamp buffalo. In the  of the grazing area of swamp buffalo there are many types of plants, one of them is Lotus (Nymphaea sp). The objectives of the research  to determine the density and the distribution pattern of Lotus (Nymphaea sp) in the grazing area of swamp buffalo Pandak Daun Village Hulu Sungai Selatan Regency. Descriptive method was used in this research. Research area were divided into three zones: the area with high grazing intensity within  100 meters from the byre as zone I, the ares with medium grazing  intensity  within  200 meters from byre as zone II, and the area with low grazing intensity within 300 meter from byre as zone III. The number of sampling points in each zone is 100 points with a plot sized 1 x 1 m2. Determination of distribution patterns used Poisson distribution formula. The Results showed density of Lotus (Nymphaea sp) in the zone I was 34 ind / ha, in zone II was 34 ind / ha, and in zone III was 9 ind / ha. The distribution pattern of Lotus (Nymphaea sp) in zone I and zone II are clumped distribution, whereas in zone III is random distribution.

Keywords: Density, Distribution Pattern, Lotus (Nymphaea sp), Swamp buffalo grazing, Pandak Daun Village

 

Abstrak. Teratai (Nymphaea sp) adalah salah satu jenis tumbuhan rawa yang bermanfaat. Bagian teratai yang dimanfaatkan oleh masyarakat antara lain biji teratai bisa dikonsumsi karena mengandung karbohidrat, bunga teratai berpotensi menjadi tanaman hias, dan di daerah tertentu teratai dimanfaatkan dalam upacara adat. Desa Pandak Daun merupakan daerah rawa yang terdapat padang penggembalaan kerbau rawa. Pada kawasan padang penggembalaan kerbau rawa tersebut terdapat berbagai jenis tumbuhan diantaranya adalah Teratai (Nymphaea sp). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan dan pola distribusi Teratai (Nymphaea sp) di kawasan padang penggembalaan kerbau rawa Desa Pandak Daun Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Kawasan penelitian dibagi menjadi 3 zona yaitu kawasan dengan intensitas penggembalaan tinggi berjarak 100 meter dari kandang kerbau rawa sebagai zona I, kawasan dengan intensitas penggembalaan sedang berjarak 200 meter dari kandang kerbau rawa sebagai zona II, dan kawasan dengan intensitas penggembalaan rendah berarak 300 meter dari kandang kerbau rawa sebagai zona III. Jumlah titik pengambilan sampel pada masing-masing zona adalah 100 titik dengan plot berukuran 1 x 1 m2. Penentuan pola distribusi dengan menggunakan rumus Distribusi Poisson. Hasil penelitian menunjukkan kerpatan Teratai (Nymphaea sp) pada zona I  adalah 34 ind/ha, pada zona II berjumlah 34 ind/ha, dan pada zona III berjumlah 9 ind/ha. Pola distribusi Teratai (Nymphaea sp) pada zona I dan Zona II adalah mengelompok, sedangkan pada zona III pola distribusinya adalah acak.

 

Kata kunci: Kerapatan, Pola Distribusi, Teratai (Nymphaea sp), Penggembalaan Kerbau Rawa, Desa Pandak Daun

KONSENTRASI HAMBAT MINIMUM (KHM) EKSTRAK ETANOL BUAH SAWO (Achras zapota L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli

KONSENTRASI HAMBAT MINIMUM (KHM) EKSTRAK ETANOL BUAH SAWO (Achras zapota L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli

M. Arsyad, Ayu Rizki Annisa
Universitas Lambung Mangkurat
Email : muhammadarsyad@unlam.ac.id

Dipublikasikan pada Jurnal Ilmiah Ibnu Sina Volume 1 Nomor 2 dengan tautan link berikut ini

ABSTRAK
Buah sawo (Achras zapota L.) diketahui mengandung tanin dan flavonoid. Tanin dan flavanoid diketahui dapat menghambat pertumbuhan Bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa konsentrasi hambat minimum ekstrak etanol buah sawo muda yang dapat menghambat total pertumbuhan Escherichia coli. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dilusi. Konsentrasi ekstrak etanol buah sawo yang diuji adalah 0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10%, 12,5%, 15%, 17,5%, 20%, 22,5%, dan 25%. Hasil penelitian menunjukkan Konsentrasi hambat minimal ekstrak buah sawo muda yang dapat menghambat total pertumbuhan Escherichia coli adalah 22,5%.
Kata Kunci : Konsentrasi Hambat Minimum (KHM), Buah Sawo, Escherichia coli

WordPress Appliance - Powered by TurnKey Linux