Kemajuan zaman yang di iringi dengan semakin berkembang dengan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi, pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat.  Menuntut pemerintah dan  semua elemen masyarakat untuk cerdas dalam merespon hal ini. Dalam merespon dan menanggapi pertumbuhan penduduk yang tidak terkendalikan pemerintah membuat kebijakan “pembangunan berkelanjutan”. Namun sering kali kurang tepat dalam menafsirkan “pembangunan berkelanjutan”. Pembangunan berkelanjutan seringkali di tafsirkan pembangunan secara konvensional. Artinya, pembangunan sebagai usaha ekploitasi sumber daya alam menghasilkan output produk sebesar-besarnya dengan biaya semininal mungkin.

Tolok ukur keberhasilan pembangunan adalah naiknya produk domestik. Semakin banyak sumber daya alam terolah semakin menaikkan produk. Kebijakan di atas tentunya tidak lain untuk kepentingan manusia. Proses pembangunan berkelanjutan yang salah tafsir ini di laksanakan dalam sistem ekonomi pasar. Artinya jika suatu barang dalam pasar punya “harga” maka barang ini di anggap punya nilai kegunaan sebesar harga yang di berikan. Sebaliknya bila suatu barang tidak punya harga dalam pasar, maka barang itu tidak punya nilai kegunaan. Dengan demikian konsekuensinya, barang yang tidak punya harga dalam pasar di anggap tidak punya nilai kegunaan. Sebagai contoh udara yang kita hirup, suhu bumi yang nyaman, angin yang berhembus, sinar matahari, air sungai yang mengalir, gelombang luat yang mengempas, curah hujan yang turun, musim hujan kemarau yang silih berganti, kiauan burung, auaman harimau dan lain-lain,  tidak punya harga dalam pasar sehingga di anggap tidak punya nilai kegunaan.

Sistem pembangunan yang di laksanakan dalam ekonomi pasar  mangakibatkan pola pembangunan yang merusak alam. Contohnya, tiga dasa warsa terakhir Indonesia sangat tergantung dengan SDA yang melimpah misalnya minyak bumi, batubara, tenabaga, emas dan lain-lain. Sementara itu, di atas permukaan bumi pembabatan hutan alam terjadi terus-menerus. Sehingga mengakibatkan spesies habitat alami mengalami kepunahan, dan mengancam kepunahan keankaragaman  hayati apalagi diperparah dengan peningkatan populasi manusia dan pola konsumsinya.

Untuk menahan laju kepunahan keanekargaman hayati akibat ulah manusia perlu adanya upaya  pengelolaan yang berkesinambungan. Salah satunya dengan pendekatan Biologi konservasi. Biologi konservasi adalah ilmu lintas disiplin yang di kembangkan untuk menghadapi tantangan demi melindungi spesies dan ekosistem.

Untuk itu Biologi Konservasi bertujuan :

  1. Menyelediki dampak manusia terhadap keberadaan dan kelangsungan hidup spesies, komunitas dan ekosistem
  2. Mengembangkan pendekatan praktis untuk mencegah kepunahan spesies, menjaga, variasi genetik dalam spesies serta melindungi dan memperbaiki komunitas biologi dan fungsi ekosistem terkait.
  3. Mempelajari dan mendokumentasikan seluruh aspek keanekaragaman hayati di bumi.

Sumber tulisan disini!

Antara Biologi Konservasi dan Keanekaragaman Hayati
Tag pada:        

Satu gagasan untuk “Antara Biologi Konservasi dan Keanekaragaman Hayati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WordPress Appliance - Powered by TurnKey Linux